Rabu, 05 November 2008

Satu Semesta Yang Satu

Satu Semesta Yang Satu

Oleh.Faris Wangge *


Angin, air, gurun dan api ada di alam raya. Disini terbentang pelajaran tentang kelembutan angin yang sejuk berhembus, kejernihan air yang mengalir, kecintaan gurun pada unta, dan keperkasaan api yang menghalui dingin. Juga dingin yang melerai manusia dari sengatan api. Tanpa dipenggal, segalanya menjadi satu kesatuan. Kita lalu menyebutnya kehidupan.

Kehidupan, bukan sekedar berapa banyak ikan-ikan di lautan. Bukan setangguh apa, dada Gunung Agung. Juga, bukan seberapa terik silau matahari, yang kita rasakan. Itu semua tak akan punya arti apa-apa, jika kita tak mampu melalui masa-masa kehidupan ini dengan baik.

Kebaikan kita pada hidup, bukan sekedar apa yang berhasil kita gali dari alam raya untuk bertahan. Namun juga apa yang harus kita berikan bagi kehidupan alam raya. Pada matahari, sungai dan pegunungan. Pada pohon, unggas dan makhluk lain sebagai yang sama.

Sebuah Kesadaran Kemanusiaan?
Penghayatan ini menuju pada “jantung pemaknaan” saya. Alam raya, beserta seluruh isi di dalamnya tak penting untuk dikuasai, namun mesti di jadikan sahabat. Sahabat yang menjaganya, sahabat yang telaten merawatnya, seperti kisah Mbak Marijan di kaki Gunung Merapi.

Sahabat sejati selalu penuh cinta, ia juga memberi tapi juga berhak mendapatkan. Meminjam untaian sajak-sajak kecil tentang cinta, Sapardi Djoko Damono “mencintai angin harus menjadi siul, mencintai air harus menjadi rijik, mencintai gurun harus menjadi terjang, mencintai api harus menjadi jilat,mencintai cakrawala harus menebas jarak, mencintaimu harus menjelma aku”.

Apa jadinya manusia, jika air tak lagi mengalir? Apa jadinya kehidupan bagi unta jika gurun tak lagi berpasir? Mengapa, jika air di lautan bergelombang, menjadi tsunami, seiring gempa pada bumi lalu kehidupan berubah. Kita serta merta menyalahkan alam raya?

Sesungguhnya, bumi tak bawa bencana. Ia hanya bergerak,bergeser untuk menemukan keseimbangannya saja. Seperti ujaran seorang Marijan, “Merapi,sedang melangsungkan hajatan pembersihan diri untuk kembali melayani kehidupan”. Tanpa sedikitpun mengurangi arti persahabatannya. Pergeseran kerak bumi bisa saja terjadi karena ulah kita atau sebuah siklus sebuah abad, demi masa depan kehidupan abad selanjutnya.

Kerap, kita terlanjur “membaptiskan diri” sebagai penguasa tunggal alam semesta. Dengan akal pengetahuan, kita bertindak seolah-olah kebenaran dan hakikat kehidupan ada pada, apa yang kita pikirkan, juga apa yang sedang kita angankan. Seumpama pegunungan itu ada nafas, ada darah, ada jiwa seperti kita. Tentu ia akan meleleh panas karena hutan sebagai penutup tubuh, kita musnahkan.

Seumpama bumi adalah manusia, ia juga akan infeksi jika terlanjur sering dilukai. Infeksi bumi, menyerupai bisul lalu pecah mengalirkan nanah. Nanah bumi yang terluka, kini sedang menggenangi Sidoarjo, yang sebentar lagi akan menenggelamkannya. Jika kita mencintai bumi, seperti kecintaan kita pada kehidupan maka, tak ada sejarah kelam Proyek Lapindo brantas itu.

Namun, menyusul seabrek bencana, yang juga menghujam Dukuh Sidomulyo-Jateng serta berbagai wilayah di tanah air. Pemaknaan tentang alam, mengalami pembelahan. Di satu sisi, ada yang mengartikannya sebagai bencana alam. Pandangan ini “seolah-olah” meletakan alam sebagai penyebab, sekaligus eksekutor tunggal. Ia ibarat raksasa buas yang menyeramkan. Lalu, hinggap di sela mimpi malam anak-anak kita. Seakan-akan, karena ulah alam, mereka lalu kehilangan keceriaan bermain, karena alam mereka menjadi kering di tenda-tenda pengungsi, karena alam pula mereka menjadi pribadi yang linglung.

Pada sebagian lain,tegas meletakan peristiwa bencana di tanah air sebagai bencana kemanusiaan. Bencana yang menimpa manusia, lalu menggairahkan kembali sisi kemanusiaannya. Bencana yang disebabkan oleh keserakahan,keangkuhan manusia. Termasuk belantara pandangan dan pemaknaan lain yang simpang siur, dari yang mistik hingga rencana Ilahi. Musababnya, ternyata ada pada pengalaman manusia, dari apa yang mereka dengar, apa yang masuk terendap dan apa yang diyakini setiap saat, setiap waktu. Bagi saya, sungguh mengerikan, jika ada pandangan yang tak masuk akan, hingga meletakan alam “seolah-olah” bukan lagi bagian, tetapi sesuatu yang “beda” sehingga penting untuk terus diwaspadai.

Saya memaklumi perubahan ini,karena pengalaman dan nilai-nilai itu hadir dan hidup dalam realitas manusia. Namun, saya tak sepakat untuk dibiarkan. Pada titik ini menjadi penuh arti jika usaha untuk mengabarkan tentang “alam raya sebagai sahabat”, juga ada yang mengerjakan. Pada titik ini, saya berlaku harap pada, individu yang tergabung dalam Bengkel Kerja Kemanusiaan Sidomulyo.

Apa yang sedang mereka kerjakan bagi saya, sedang tidak menegasikan dua (2) hal yang saling berkait : memulihkan kesehatan mental anak-anak Dukuh Sidomulyo, meminjam peristilahan mereka “mencari jejak-jejak trauma anak-anak Sidomulyo”, dengan semboyan “...semua kami kerjakan bersama,belajar sama-sama, bertanya sama-sama, bertanya sama-sama anak Sidomulyo”sekaligus “mengabarkan kembali tentang hakekat alam raya yang menjadi satu kesatuan dengan manusia”. Hal lain adalah menguatkan kapasitas masyarakat serta membangun kembali bangunan fisik (rumah & fasilitas umum)

Tentunya dua (2) hal ini, bukan pekerjaan ringan, tapi juga bukan mustahil. Harapan saya, pekerjaan ini dimulai dengan kesadaran kemanusiaan, bukan sekedar sensasi, apalagi mencari uang. Sensasional terletak pada content kerja, bukan pada gambaran kata-kata muluk pada poster dan pamflet. Uang juga adalah efek bukan tujuan (bila ada). Sehingga,kekurangan finansial kemudian tidak meninggalkan, apa yang telah di kerjakan dan siapa yang sedang didampingi. Jangan sampai, pekerjaan dengan maksud mencari jejak-jejak trauma justru meninggalkan rimba trauma baru. Bagi saya, anak-anak adalah subyek bukan obyek. Solidaritas untuk membantu akan berdatangan, jika ada bangunan kepercayaan yang sedari awal hingga akhir diletakan.

Mencari Jejak Trauma Pada Anak
Meski saya tak bersentuhan langsung dengan anak-anak Sidomulyo, tapi dari cerita sahabat saya “Portalica”, maka saya bisa mengira-ngira apa yang kini anak-anak Sidomulyo alami. Tanggung jawab pemenuhan ekonomi rumah tangga,barangkali bukan menjadi faktor utama mereka, karena biasanya beban tersebut terletak pada orang dewasa. Namun, yang terlihat mereka mungkin saja masih bisa tertawa, tapi tatapan mereka kosong. Jiwa mereka retak. Ketakutan selalu menghantui mereka.

Hal inilah yang disebut peristiwa traumatik setelah bencana. Peristiwa traumatik berada diluar batas kemampuan anak-anak, yang biasanya menimbulkan ketakutan atau kengerian yang terus menerus, atau menimbulkan perasaan tidak berdaya. Traumatik langsung menyentuh pengetahuan, emosi serta hubungan antar sesamanya.

Trauma sebagai sebuah peristiwa, kerap menerjang anak-anak. Kenyataan ini merupakan peristiwa yang berada diluar batas kemampuan mereka. Peristiwa ini biasanya menimbulkan perubahan fisik, emosional, kognitif dan gangguan antar sesama. Perubahan fisik termasuk kelelahan, keluhan nyeri, menurunnya nafsu makan dan sulit tidur. Perubahan emosional termasuk, mudah terkejut, mudah marah dan mudah sedih. Perubahan kognitif termasuk, sulit konsentrasi dan gangguan pada sistem memori. Perubahan antar sesama termasuk, suka menyendiri, enggan bergaul dan gangguan dalam kemampuan beraktivitas

Berbagai perubahan yang menyusul dalam peristiwa traumatik, merupakan reaksi stres yang wajar terjadi mengikuti peristiwa yang tidak wajar. Jika memungkinkan metode kerja ini juga menyertakan conselor, psikolog atau psikiater.

Sebuah kegiatan untuk membantu memulihkan kembali kesehatan mental anak-anak pasca trauma, mengarahkan untuk menanggulangi dampak psikososial bencana namun pada sisi lain, untuk mengajak para orang tua atau tokoh masyarakat untuk memahami apa sesungguhnya yang terjadi pada anak-anak. Mereka dilibatkan untuk menyikapi seabrek gejala yang teralami anak dan dunianya. Serta menghilangkan sikap yang cenderung menyalahkan anak-anak kelakuannya semakin aneh setelah bencana. Hasil akhir, dari kegiatan ini, paling tidak anak-anak secara bertahap segera keluar dari masalahnya.

Mencari untuk menemukan jejak trauma pada anak harus berperspektif kemanusiaan serta mengurangi dampak stigmatisasi. Dimana secermat mungkin mampu memilah setiap kekuatan pada anak yang relatif berbeda. Serta, membangun jejaring sosial untuk mengubah serta memaksimalkan kondisi yang ada.

Alam Raya Yang Gembira
Akhir kata, saya kemudian membayangkan tentang kehidupan yang akan terus berlangsung. Dimana ada pembuahan, kelahiran, pertumbuhan dan perubahan generasi baru yang sehat mental,spiritualnya. Kelak menjadi anak-anak terus membangun persahabatan dengan alam tanpa takut.

Mereka kembali menemukan kegembiraan dan kebahagiaannya di alam raya. Seperti juga alam raya yang gembira menyambut mereka. Dari alam raya mereka belajar, berteman, bermain untuk menjadi dirinya dan mengembangkan bakat-bakatnya. Dari anak-anak, alam raya mendapatkan pemurnian kembali. Di alam raya anak-anak mendapatkan perlindungan dari ancaman-ancaman, dan alampun memperoleh keseimbangan.

Di alam raya, anak-anak merasa aman mempersiapkan masa depannya, dan alampun selalu melayani masa depan mereka. Singkat kata, mereka menjadi generasi yang arif merawat alam serupa sahabat dan memaknai alam sebagai berkah yang patut terus disyukuri. Semuanya, akan terjadi jika semua sepakat untuk bergabung dan membantu pekerjaan mulia ini. Singkat kata, anak-anak Sidomulyo selalu merindukan kita untuk datang atau membantu dengan cara apa saja. (f

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Dua ribu sembilan merupakan tahun yang kelam dalam perjalan bangsa kita mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa menciptakan masyarakat yang adil, makmur sentosa dibawah Pancasila dan UUD 45. Ini terbukti dari masih banyaknya feno mena-fenomena penindasan, ketidak adilan, kekerasan, kelaparan di setiap sudut negeri ini. Tahun ini pula, tahun 2009 merupakan tahun pengharapan untuk terbebasnya rakyat Indonesia dari rezim yang selama ini telah gagal menjalankan amanat reformasi yaitu menciptakan demokratisasi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukankah sebentar lagi Pemilu Bung!!. Ini berarti kita akan mencari pemimpin baru yang mempunyai visi dan misi kerakyatan. Belum tentu Bung! Sosok yang bagaimana yang kita harapkan, apakah sosok yang idealis denan janji-janji yang suit untuk diwujudkan, atau tokoh yang realistis yang kurang memberikan pengharapan, ataukah tokoh yang humanis dengan segala kekurangan dan kelebihan?. Pertanyaan diatas selalu dan akan terus diulang karena manusia belum menemukan atau bahkan melihat bayangan dalam benaknya itu secara riil. Namun apakah kita akan selalu bertanya-tanya ataukah akan mewujudkannya sehinggga bisa menjadikan pikiran kita lebih jelas dan mendapatkan pencerahan,baik dalam memandang lingkuangan kita ataupun segala kesusahresahan Negar ini. Negara ini bukan tanpa harapan, Negara ini bukan tanpa kehidupan, Ngaraini hanya tertidur dan perlu semangat baru untukberubah. Banyak cara yang dilakukan rakyat untuk menyambut prosesi Pemilu 2009. Ada yang begitu menggebu-gebu dengan adanya 200-an partai terdaftar di Departemen Kehakiman, ada juga yang hanya menunggu dan pasrah akn hasilnya, serta mereka yang hanya mengharapkan jalannya aman-aman saja tanpa perlu melihat figur yang dicalonkan. Bahkan mungkin ada yang akan memboikot karena sudah jenuh dengan semua poli-Tikusnegeri ini, yang cenderung membohongi dengan janji-janji saat kampanye. Janji-janji yang sama untuk membela yang tertindas, namun lupa dan mabuk kekuasaan ketika menjabat sebagai pemimpin Negara ini. Tahun depan, tahun 2009 adalah tahun baru dimana kesiapan kita di uji. Mampukah kita mewujudkan keinginan kita. Kesadaran kita akan realitas hidup ini sangat diperlukan dan kesdaran itu kita gunakan dalam menentukan pilihan saudara-saudara. Maka ditengah tawaran yang visioner (mulk-muluk) maka seorang Portalica ingin menawarkan hal yang baru, hal yang selama ini tersimpan dalam hati dan dilupakan itu melalui media berkesenian. Melalui pameran dengan tema ”Kampanye Portalica 2009” merupakan sebuah harapan, cita-cita sekaligus parodi mendapatkan seorang figur pemimpin yang memiliki visi dan misi kerakyatan yang sesungguhnya.